Hendrikus Triwibawanto Gedeona

Genderang perubahan STIA LAN BANDUNG telah ditabuh keras, dan langkah menuju arah yang lebih baik telah dilakukan dengan berbagai rencana tindak (action plan) yang tepat. “Moving to be the great untuk STIA LAN BANDUNG”, barangkali itulah benih semangat dan optimisme yang tertanam dalam benak semua insan STIA LAN Bandung dalam pusaran “angin perubahan” hari ini.

Semangat untuk menjadi yang maju dan lebih baik, tentunya harus diwujudkan dengan hal-hal yang konkret. Bukan sekadar lips service semata. Karena jika hal demikian yang terjadi maka semangat itu akan kembali memudar, dan STIA LAN BANDUNG akan menjadi seperti ungkapan lagu yang dilantungkan Mariam Belina, bahwa “aku masih seperti yang dulu”.

Mengharapkan sebuah perubahan STIA LAN BANDUNG untuk menjadi yang lebih maju dan terbaik, tentunya ada beberapa hal harus dipahami dan menjadi bagian penting bagi setiap insan dalam lembaga ini, yang tentunya dimulai dengan sebuah perubahan cara pandang kita (change our mindset). Kita memang tidak akan melakukan perubahan secara benar dan baik, apabila kita masih bertahan dengan cara-cara konvensional, bahkan ortodoks. Perubahan cara berpikir lama ini harus segera ditinggalkan untuk apa yang diharapkan kita bersama di masa depan. Kata orang bijak “change our mindset, change our future.”

 Perubahan yang dimaksud pada konteks ini, menurut penulis dimulai dan dilakukan dengan berlandaskan pada beberapa hal penting berikut:

Pertama, kita semua warga STIA LAN BANDUNG harus memiliki wawasan inovasi.  Kita sadari di hari ini bahwa organisasi yang hebat adalah organisasi yang berinovasi. Tidak ada organisasi atau perusahaan yang ingin menjadi “Kodak” atau Blockbuster” lagi, benchmark-nya pasti Apple, Google ataupun Netfix. Semboyannya “Innovate or Die”.  Pertanyaannya adalah apakah kita sudah menemukan cara tentang mengubah cara berpikir kita untuk sebuah perubahan ini? Jika belum, tidak ada kata terlambat untuk mengatakan “why not” untuk kita miliki sebuah wawasan inovasi dan mulai berusaha melakukan terobosan guna perubahan yang kita kehendaki. 

Kita semua insan STIA LAN BANDUNG, tidak bisa terlena dan berleha-leha untuk menemukan cara baru menanggapi keadaan lingkungan strategis kita. Kita perlu sebuah kompetensi untuk berpikir beda sekaligus sebuah obsesi yang tidak kecil untuk mewujudkan apa yang kita mau. Kita harus punya tim, yang “membawa tidur” permasalahan” dan “membangunkan buah pikiran” yang tidak sekali jadi. Karena jatuh bangun adalah bagian dari inovasi dan itu harus kita semua sadari.  Saat ini, semua kita, harus memiliki mindset bahwa kesalahan harus dilihat sebagai suatu proses pembelajaran. Sebagaimana kita ketahui bahwa kegagalan adalah hal biasa sejauh kita belajar dari kesalahan dan dengan cepat memperbaikinya. Kesadaran ini dapat membebaskan kita dari ketakutan mengambil resiko didalam proses kita melakukan berbagai langkah strategis untuk perubahan kelembagaan kita. Karena ketika kita memutuskan untuk berhenti mengambil resiko dalam proses perubahan ini, maka pada saat itulah kita akan mulai tertinggal dan ditinggal oleh perubahan itu.

Untuk memiliki wawasan inovasi ini, harus disadari pula bahwa demi menjadi pribadi yang inovatif dan atau lembaga yang inovatif, kita tidak sekadar “beda”, misalnya saja, hanya sekadar berbeda nomenklatur kelembagaan dan atau program studinya. Tetapi lebih dari itu, bahwa perubahan yang dilakukan harus benar-benar memberikan sebuah “problem solving” untuk membuahkan hasil yang lebih baik ke depannya, khususnya ikut bertanggungjawab dan berperanserta aktif mengatasi berbagai masalah administrasi negara guna terwujudnya good governance bagi kebaikan bersama.

Oleh karena itu, kita harus berpikir cerdas dan kritis: masalah apa yang sangat urgen yang harus kita selesaikan terlebih dahulu dalam proses perubahan ini? Hal ini teramat penting karena tanpa kemampuan untuk mendefinisikannya, maka kita akan ngawur dan membuang energi. Hanya dengan mendiagnosa dan mendefinisikan masalah dengan tepat, maka kita akan membuat langkah awal berupa strategi perubahan kelembagaan STIA LAN BANDUNG yang tepat pula. Keahlian untuk menemukenali dan mendefinisikan masalah, bisa dilakukan oleh setiap insan STIA LAN BANDUNG dengan  cara mengajukan berbagai pertanyaan, membuka mata terhadap berbagai hal-hal penting yang ada di sekitar kita, sering berdiskusi, mengamati kompetitor kita, dan tentu saja berinteraksi secara intens dengan stakeholders, mahasiswa, alumni dan calon mahasiswa kita. Kehausan untuk terus mencari tahu dan menggali informasi untuk menemukan data yang kuat guna merumuskan masalah, sangatlah penting nilainya dalam proses berinovasi atau berwawasan inovasi yang dimakud. Sikap ini, tentunya  harus dikombinasikan  dengan pijar pikiran yang melampaui batas-batas, kegigihan mencari berbagai alternatif solusi, keberanian mengambil resiko, dan kemauan untuk belajar dari jatuh bangunnya ikhtiar untuk melakukan perubahan.

Kedua, bahwa sebagai warga dan  sebuah keluarga  STIA LAN BANDUNG,  dibutuhkan sikap respek dalam  proses perubahan ini: baik atasan terhadap bawahan, bawahan terhadap atasan, atasan dengan atasan, dan bawahan dengan bawahan.  Kita sadari bahwa perubahan selalu melahirkan resistensi di dalamnya, maka sangat dibutuhkan sikap respek ini. Ketiadaan sikap ini, dapat berkembang menjadi keengganan untuk menciptakan kekompakan tim ataupun kekompakan keluarga STIA LAN BANDUNG dalam melakukan perubahan.

Banyak pengalaman dalam berbagai organisasi, yang menunjukkan bahwa kadangkala pimpinan atau para senior tidak bisa mengembangkan sikap respek ke anak buahnya atau para juniornya, demikian juga antara senior dengan senior dan atau antara junior dengan junior, meskipun yang lebih banyak terjadi adalah antara senior terhadap juniornya, yang memang dianggap beda kemampuan, pengalaman dan berbeda kepandaian dengannya. Padahal, kita semua tahu bahwa setiap individu dalam suatu organisasi akan bekerja lebih baik, produktif serta sepenuh hati apabila mereka direspek. Sehingga tidak mengherankan bahwa orang bijak berkata bahwa “sikap respek ibarat jantung hubungan interpersonal”. Artinya bahwa tanpa sikap respek maka hubungan interpersonal dalam organisasi akan mati, dan berimplikasi pada “matinya” organisasi tersebut. Dalam pernyataan yang berbeda dapat kita katakan bahwa  setiap individu organisasi akan ber-mindset produktif apabila didalam organisasinya terdapat situasi yang penuh respek. Oleh karena itu, pada proses perubahan kelembagaan ini, setiap kita sebagai keluarga besar STIA LAN BANDUNG harus merubah mindset kita, agar selalu membangun hubungan kerja yang didasari respek. Budaya birokrasi, dengan sikap feodal yang masih mengkotak-kotakkan dan memilah-milah individu dan atau kelompok individu, sehingga sering menggiring kita untuk tidak merasa perlu menunjukkan respek, sudah harus ditinggalkan. Hari ini, kita semua harus merubah mindset kita, guna merubah masa depan kelembagaan kita dengan memandang setiap kita sebagai “people of value”. Orang-orang yang berharga dengan keberagaman potensi dan perannya sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan kepandaiannya.

Banyak contoh organisasi-organisasi hebat, yang menunjukkan bahwa pengalaman berinteraksi dengan saling respek dalam keberagaman potensi dan peran, dapat membangun kebiasaan saling memahami, berempati, serta suka terbuka terhadap berbagai perspektif atau sudat pandang. Sehingga dampaknya terhadap upaya mewujudkan suatu tujuan yang lebih baik dalam proses perubahan dapat lebih mudah tercapai. Oleh karena itu, setiap kita sebagai warga dan atau keluarga besar STIA LAN BANDUNG pun dapat memulainya dari sekarang, harus memiliki sikap respek dan atau memandang setiap kita sebagai “people of value” dalam proses perubahan kelembagaan ini. Membudayakan kata-kata positif seperti “tolong”dan “terimakasih” serta berilah senyuman, adalah hal-hal yang kelihatannya sederhana, tetapi memiliki implikasinya nyata bagi sebuah “keluarga” dalam organisasi. Kemudian memberikan dukungan dalam menyelesaikan pekerjaan, mengapresiasi prestasi, berdiskusi dalam situasi informal, atau menunjukkan minat terhadap sisi pribadi teman kerja, adalah hal-hal yang juga dapat dilakukan untuk mencairkan kekakuan struktural dan membangun jembatan hubungan yang baik antar individu dalam organisasi kita.

Ketiga, bersikap dan bertindak maju dan menjadi lebih baik. Saya mengamini bahwa semua kita di lingkungan STIA LAN BANDUNG, sadar bahwa kita ingin maju dan menjadi yang terbaik. Untuk itu, kita harus berkomitmen untuk membangun sebuah gerakan yang sama, yaitu bergerak ke depan, alias keluar, seperti berorientasi memenangkan kompetisi atau memenuhi kebutuhan user kita. Berorientasi kedalam, dengan sibuk mencari kesalahan satu sama lain, tidak akan membawa kita kemana-mana bahkan memburuk situasi. Kita memang perlu mempertimbangkan unsur-unsur internal perekat kelompok, seperti: memperkuat rasa percaya satu sama lain dan memperjuangkan tim work atau kerjasama. Namun, sekali lagi, upaya tersebut harus dilakukan dalam kerangka bergerak ke depan dan ke luar. Jika kita terfokus pada menyelesaikan perselisihan internal, energi yang dikeluarkan sudah terkuras di awal sehingga kita tidak lagi punya kekuatan besar untuk menghadapi persaingan dengan kompetitor kita.

Keempat, adanya penyebaran kepemimpinan. Dunia hari ini, sudah digerakkan oleh persaingan inovasi, kecepatan dan servis ke pelanggan.  Masalah sudah demikian kompeksnya sehingga sudah tidak mungkin kita mengandalkan kemajuan pada seorang pemimpin bertangan besi yang berkuasa dan memegang semua wewenang penting.  Pergerakan sudah tidak bisa lagi dikendalikan pada level tertentu, tetapi harus tersebar di seputar organisasi STIA LAN BANDUNG, bisa pada level bawah ataupun di atas. Sudah saatnya kita mempraktekkan “penyebaran kepemimpinan”, di mana setiap orang harus menjadi mata alias pengamat dari perubahan lingkungan strategis kita. Tiap kita, harus sadar perannya sebagai penyemangat yang menguatkan komitmen dan spirit tim dalam menjalankan tugas menuju STIA LAN BANDUNG yang lebih maju dan terbaik. Para ahli harus tersebar di seluruh jajaran dan unit kerja yang ada, dimana mereka tidak lagi sekadar menyetor hasil pemikirannya, tetapi juga harus bergerak dan bertindak mempersiapkan solusi yang benar dan tepat. Kita jelas dituntut untuk bekerja dengan cara yang baru, dimana kita tidak lagi menunggu hirarki informasi ataupun visi yang membawa kelompok ke alam yang baru. Kita idealnya, menghadapi masa dimana sebanyak-banyaknya orang dalam organisasi ini, perlu mengambil peran untuk memimpin, berinovasi, menuntaskan tugasnya, juga selalu senantiasa berpikir dua sisi: internal dan eksternal.  Bila STIA LAN BANDUNG masih saja tidak mempunyai konsep mengenai penyebaran kepemimpinan, bisa jadi kita akan terus menghadapi situasi dimana tanggung jawab untuk maju hanya pada pemimpin puncaknya, dan itu pastinya perubahan yang diharapkan akan berjalan sangat lambat.

Akhirnya dengan secuil gagasan ini, saya yakin bahwa arah perubahan kita menuju STIA LAN BANDUNG yang maju dan terbaik, akan bisa terwujud. “Moving to be the Great, change our mindset, change our future”. Good luck!

 

Ikuti STIA LAN BDG :

 

 
 

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Tweets


 

Pengumuman



Pengumuman


PELAKSANAAN WISUDA 2018 STIA LAN BANDUNG
Rabu, 10 Oktober 2018 - 11:59:11 WIB
Jadwal UTS Semester Ganjil 2018/2019 Program Sarjana Terapan
Kamis, 20 September 2018 - 06:21:12 WIB
PENGADAAN BARANG DAN JASA
Jumat, 3 Agustus 2018 - 01:45:18 WIB