Self Leadership - Ely Sufianti -

 
Selasa, 10 April 2018 - 04:38:15 WIB

 
 

Ely Sufianti

Pernahkah kita berada dalam situasi yang sulit? Sebagai seorang yang ditugaskan untuk memimpin sebuah tim, rasanya semuanya sudah dilakukan dengan benar, semua tahapan dilakukan sesuai rencana. Tak ada kesalahan yang dilakukan. Tapi kenapa hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Dimana sumber kesalahannya? Yang tampak kemudian adalah bahwa penyebab kekurangan yang terjadi adalah pada orang lain. Si A tidak melakukan tugasnya dengan baik, si B ceroboh, si C berusaha menghalagi agar kita gagal, dan seterusnya.  Kemudian kita sibuk mencari pembenaran diri dan menyalahkan orang lain. Kejadian seperti ini sangat mungkin terjadi dalam berbagai situasi di dalam organisasi tempat kita berada.

Tidak mudah untuk mencapai keberhasilan, karena banyak kendala sepanjang perjalanannya.  Sumber permasalahan dapat berasal dari orang lain, tetapi mungkin juga berasal dari diri sendiri. Karakter dan kemampuan orang-orang di sekeliling kita sangat beragam. Ada yang sepaham dan sepemikiran, yang sangat mendukung dan setengah mendukung, dan tak jarang pula yang berbeda pandangan dengan kita. Sebuah kenyataan yang tak mungkin dihindari. Adalah sangat tidak mungkin mengharapkan keberhasilan hanya bertumpu kepada orang lain. Dalam agama Islam, diyakini bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kalau kaum itu tidak mengubah nasibnya sendiri. Diterapkan dalam konteks diri, maka mengubah situasi untuk mendapatkan perubahan kea rah yang lebih baik, harus berawal dari diri sendiri. Bagaimana kita bisa mengandalkan diri dengan segenap kompetensi yang ada didalamnya, bagaimana kita mampu mengelola diri, sehingga mampu mengoptimalkan sumber daya di sekeliling untuk mencapai tujuan.

Dalam upaya memaksimalkan kompetensi diri tersebut, siapa yang bisa melakukannya? Yang menentukan dan melakukannya adalah kita sendiri. Jangan pernah menunggu orang lain, atau atasan kita, atau organisasi tempat kita bekerja untuk mengembangkan kapasitas diri kita. Kita harus mengetahui siapa diri kita, temukan potensi yang kita miliki, dan berusahalah untuk mengembangkannya untuk menggapai ke arah yang kita rancang, selaras dengan tujuan organisasi dimana kita menjadi bagiannya. Kita sendiri yang menentukan akan kemana dan bagaimana cara mengembangkannya. Jika kita menjadi diri yang berhasil, tentu akan berdampak pada unit, pada organisasi tempat kita bekerja, dan pada akhirnya untuk bangsa ini.

Menjadi pribadi yang kuat, yang mampu mempimpin dirinya sendiri, akan berdampak pada lingkungan, bahkan mampu mengendalikan lingkungannya. Menurut Rhenald Kasali, pribadi yang demikian menunjukan seseorang sebagai seorang driver, bukan seorang passenger. Beliau menjelaskan, jika seseorang mampu mendrive-dirinya sendiri, berarti dia bisa memimpin dirinya, dan dia akan bisa men-drive orang lain.  Seorang driver bisa hidup dimana pun mereka berada, dan selalu menumbuhkan harapan. Seorang driver akan selalu berkembang, juga mengajak orang-orangnya untuk berkembang dan keluar dari tradisi lama menuju perubahan baru, namun tetap rendah hati dan kaya empati. Bahkan pribadi-pribadi driver lah yang mampu membawa bangsa ini kearah kemajuan.

 

Sebaliknya, seorang passenger akan menunggu orang lain untuk membawa dan mengarahkan kehidupannya. Dia tidak memiliki inisiatif. Otaknya menjadi kerdil karena terbelenggu oleh pikirannya yang stagnan dan mudah menyerah. Dia tidak melihat lingkungannya sebagai sebuah tantangan, tetapi menjadikan lingkungannya sebagai pagar pembatas. Mungkin pernah mendengar cerita tentang seekor kodok yang dimasukan ke dalam sebuah kotak. Pada awalnya, sesuai nalurinya, kodok tersebut selalu melompat-lompat. Namun karena setiap kali melompat tinggi lompatannya dibatasi oleh kotak tersebut, maka dia berpikir menganggap bahwa hanya sampai demikian kemampuannya, maka dia menganggap dia tidak mampu dan menyerah melompat lebih tinggi. Dengan segenap potensi yang ada dalam diri, jangan menjadi seekor rajawali yang menganggap dirinya seekor burung dara, yang memiliki potensi untuk terbang menjelajah angkasa tetapi kemudian hanya terbang di halaman rumah.

Seorang pemimpin memiliki kemampuan mengelola segala potensi yang ada pada diri sendiri. Kita mengenal kompetensi sebagai kemampuan yang sudah terlihat maupun yang masih tersimpan sebagai potensi. Ada hard kompetensi dan ada yang soft kompetensi. Jamil Azzaini menyebutnya valensi. Menurutnya valensi adalah tingkat kualitas diri seseorang dalam mengarahkan hidupnya, dikaitkan dengan seluruh kapasitas yang ada dalam dirinya. Setiap orang memiliki valensi yang berbeda-beda. Valensi yang dimiliki akan menentukan kualitas hasil kerja dan mempengaruhi tingkat kesuksesan, bisa sebagai faktor pendorong, dapat pula sebagai pembatas.  Jika mampu meningkatkan kualitas diri dengan meningkatkan kapasitas dirinya, maka keberhasilan akan lebih mudah diraih, sebaliknya, jika dia tidak mampu meningkatkan kualitas dirinya, maka dia tidak akan maksimal dalam meraih keberhasilannya.

Seorang pemimpin memiliki kapasitas mempengaruhi orang lain. Kapasitas ini dapat diperoleh bersumber dari kewenangannya atau bersumber dari dalam dirinya. Seseorang mampu mempengaruhi orang lain salah satunya karena dia memiliki kemampuan membuat hidup orang lain lebih baik.  Kemampuan ini merupakan kemampuan yang sangat mulia.  Kita mengenal figur-figur yang sangat luar biasa karena kemampuannya tersebut, diantaranya Mahatma Gandhi, Bunda Teresa.   Jika dikaitkan dengan motivasi, dari contoh-contoh tersebut, terlihat bahwa faktor internal yang mempengaruhi keberhasilan seorang pemimpin adalah motivasi untuk menjadi seseorang yang berarti, bukan motivasi untuk mendapatkan materi.

Selanjutnya, seorang pemimpin harus mampu mengelola diri, dengan pemikiran diri sebagai bagian  dari manusia, bagian dari alam, dan mahluk Tuhan. Memiliki keyakinan sebagai manusia berarti harus mampu menempatkan diri sebagai manusia dengan segala karakter kemanusiannnya. Selain itu, memiliki keyakinan bahwa alam memiliki keterkaitan yang erat dengan hidup kita, bahwa hukum kekekalan energi, hukum kausalitas, bekerja pada kehidupan kita. Berusaha untuk selalu berbuat baik, sehingga energi positif akan menghampiri. Seorang pemimpin memiliki keyakinan terhadap Tuhan, dalam arti meneladani prinsip-prinsip yang dimiliki Tuhan agar menjadi manusia yang mulia, yang mampu menjadikan hidup orang lain lebih baik. Selanjutnya, mampu memimpin tindakan sendiri dalam arti mampu bekerja keras, bekerja cerdas, bekerja dengan ikhlas.  Dengan demikian, bekerja akan seoptimal mungkin untuk mencapai tujuan dengan perasaan bahagia. Terakhir harus mampu memimpin pekerti, dalam arti bahwa seorang pemimpin harus memiliki perilaku yang positif, produktif, kontributif. Jika demikian, maka akan dia akan mudah diterima lingkungannya.

Kemampuan memimpin orang lain, berawal dari kemampuan mengelola diri sendiri. Dengan kemampuan mengelola diri, dalam arti mampu mengendalikan potensi diri, memiliki motivasi untuk berguna bagi orang lain, mengenal diri sebagai bagian manusia, dari alam, mahluk Tuhan, bekerja keras, cerdas, dan ikhlas, serta memiliki perilaku yang positif, produktif, dan kontributif, maka akan memberikan kemudahan untuk memimpin orang lain. Seseorang yang demikian, akan berupaya untuk selalu berkembang, mampu memberikan kontribusi untuk kebahagiaan orang lain, dan memberikan inspirasi untuk orang lain.

“Menjadi pemimpin hebat harus memulainya dari memimpin diri sendiri dengan baik”

Referensi:

Winarto, Paulus. 2016. Maximizing Your Leadership Impact. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia

Kasali, Rhenald. 2014. Self Driving: Menjadi Driver atau Passenger? Jakarta: Expose.

Azzaini, Jamil. 2006. Kubik Leadership (Cetakan kedua). Jakarta: Hikmah.

 

Ikuti STIA LAN BDG :

 

 
 

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Tweets


 

Pengumuman



Pengumuman


KALENDAR AKADEMIK 2019
Sabtu, 24 November 2018 - 02:15:41 WIB
JADWAL SEMINAR & SIDANG S1 - S2 AKHIR TAHUN 2018
Selasa, 6 November 2018 - 05:39:41 WIB