Mengenal Burnout - Intifada -

 
Selasa, 10 April 2018 - 04:12:37 WIB

 
 

Intifada Dwinta Setiarini

Hari Kesehatan Dunia tanggal 10 Oktober 2017 kemarin mengambil tema mengenai Mental Health in Workplace, yang berarti kesehatan mental di tempat kerja.  Setiap hari orang berada di tempat kerja kurang lebih 8 – 9 jam. Dengan durasi waktu yang cukup panjang tersebut, lingkungan kerja merupakan aspek yang penting dalam mempengaruhi kesehatan mental para pekerja.

Salah satu subjek pembahasan dalam kesehatan mental di tempat kerja adalah mengenai Burnout. Burnout menurut wikipedia adalah istilah psikologi yang digunakan untuk menggambarkan perasaan kegagalan dan kelesuan akibat tuntutan yang terlalu membebankan tenaga dan kemampuan seseorang. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Freudenberger pada tahun 1974.

Burnout secara lebih mudah dapat dipahami sebagai stress berkepanjangan yang dialami oleh seseorang dan berakibat kelelahan pada emosional, fisik dan mental. Burnout ini tanpa disadari kerap menyerang beberapa pegawai yang memiliki intensitas kerja yang melibatkan orang lain. Jenis pekerjaan yang rentan mengalami burnout seperti guru, polisi, perawat, juga pekerjaan yang bersifat pelayanan dengan orang lain/masyarakat/pihak ketiga.

Burnout dapat terjadi karena beberapa faktor. Ada 2 Faktor penyebab burnout, yaitu : faktor internal yang berasal dari individu, seperti : jenis kelamin, usia, status perkawinan, latar belakang pendidikan, faktor kepribadian, kemampuan mengendalikan diri dan sebagainya. Sedangkan faktor eksternal, berasal dari luar individu seperti : beban kerja yang tinggi, kurangnya apresiasi yang didapat dalam tempat kerja, adanya kesenjangan antara pihak manajemen dengan staff, perlakuan yang tidak adil di tempat kerja, dan sebagainya.

Burnout apabila dibiarkan akan berakibat pada pegawai dan menyebabkan pegawai : memiliki kinerja buruk, apatis, tidak mau berkembang, tidak disiplin, tidak ingin berkontribusi dalam organisasi, cuek, kelelahan, sering sakit, dan hal-hal lain yang mengurangi produktivitas dalam bekerja.

Solusi dari mengatasi masalah burnout pada pegawai ini dapat dilakukan baik dari  diri pribadi pegawai maupun organisasi. Untuk pegawai misalnya bila sudah merasa burnout ada baiknya agar mengambil cuti untuk membantu menyeimbangkan diri. Sedangkan untuk organisasi dapat melakukan proses rotasi/mutasi atau promosi juga memberikan diklat dan training agar pegawai dapat merasakan kembali semangat beraktvitas dalam bekerja. Organisasi juga dapat mengevaluasi kinerja pegawai tersebut dengan mengembalikan sesuai dengan tugas dan fungsinya agar beban kerja tidak berlebihan.

 Referensi : dari berbagai sumber

Ikuti STIA LAN BDG :

 

 
 

0 Komentar

Tinggalkan Komentar