Lembang, 30 Juli 2026 — Sebanyak 90 mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Administrasi Pembangunan Negara (APN) Politeknik STIA LAN Bandung akan melaksanakan program magang di delapan desa yang berada di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Program yang berlangsung selama tiga bulan, mulai 1 Agustus hingga 31 Oktober 2026, menjadi bagian dari proses pembelajaran mahasiswa untuk memperkuat pengalaman lapangan sekaligus memahami secara langsung berbagai persoalan tata kelola pemerintahan desa.
Sebanyak 90 mahasiswa yang mengikuti program tersebut merupakan mahasiswa semester 7 Program Studi APN, terdiri atas 22 mahasiswa laki-laki dan 68 mahasiswa perempuan. Para mahasiswa akan dibagi dalam kelompok dan ditempatkan di delapan desa dengan pendampingan dosen Politeknik STIA LAN Bandung.
Ketua Program Studi APN Politeknik STIA LAN Bandung, Siti Widharetno Mursalim, mengatakan bahwa program magang dirancang untuk memberikan pengalaman empiris kepada mahasiswa sehingga pemahaman terhadap ilmu administrasi pembangunan tidak hanya diperoleh melalui pembelajaran di ruang kelas.
“Yang diterjunkan pada magang kali ini ada 90 mahasiswa, terdiri dari 22 laki-laki dan 68 perempuan. Semuanya merupakan mahasiswa semester 7 APN,” ujar Siti Widharetno Mursalim.
Menurutnya, pengalaman langsung di lapangan menjadi bagian penting dalam membentuk mahasiswa agar mampu memahami persoalan pembangunan dan tata kelola pemerintahan secara lebih komprehensif.
“Karena mereka ini di-create untuk menjadi analis kebijakan, perencana pembangunan, pelayan publik, maupun manajer sektor publik yang ke depannya akan memimpin jabatan-jabatan dalam organisasi publik. Karena itu, mereka harus memahami permasalahan mulai dari akar persoalannya, termasuk yang ada di desa,” ungkapnya.
Siti menjelaskan, perpaduan antara teori yang diperoleh mahasiswa selama perkuliahan dengan pengalaman praktik di lapangan diharapkan dapat menjadi bekal yang lebih utuh bagi mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja dan menjalankan peran profesionalnya di sektor publik.
Dibekali Kemampuan Pemetaan Masalah
Sebelum diterjunkan ke desa-desa, mahasiswa mendapatkan pembekalan intensif selama dua hari. Pembekalan tersebut diberikan untuk memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai karakteristik dan potensi desa, design thinking for public innovation, serta bagaimana mengcreate inovasi yang nantinya akan berguna selama pelaksanaan magang.
“Selama dua hari mereka kami gembleng untuk memahami seluk-beluk desa, bagaimana menggali permasalahan, serta menciptakan perbaikan melalui inovasi,” ujar Siti.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa akan berkolaborasi dengan pemerintah desa dan masyarakat setempat. Dengan didampingi dosen, mahasiswa akan melakukan observasi, menggali informasi, serta menginventarisasi berbagai persoalan yang berkaitan dengan tata kelola pemerintahan desa.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu mendorong mahasiswa untuk tidak berhenti pada tahap mengidentifikasi masalah, tetapi juga mampu menganalisis akar persoalan dan merumuskan alternatif solusi yang sesuai dengan kebutuhan di masing-masing desa.
Program magang ini sekaligus menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan analisis, pemecahan masalah, komunikasi, kolaborasi, dan inovasi yang dibutuhkan dalam menjalankan peran sebagai calon profesional di sektor publik.
Mahasiswa Siap Belajar dari Kondisi Riil Desa
Antusiasme mengikuti program magang juga disampaikan salah seorang mahasiswa APN, Puan Kayla Maharani. Bersama kelompoknya, Puan akan melaksanakan magang di Desa Cibogo, Kecamatan Lembang.
Puan mengatakan, persiapan telah dilakukan sejak sebelum mahasiswa diterjunkan ke lokasi. Bersama anggota kelompok, ia terlebih dahulu mencari informasi mengenai kondisi Desa Cibogo melalui berbagai sumber untuk memperoleh gambaran awal mengenai wilayah yang akan menjadi lokasi magang.
“Persiapan awal sudah dilakukan. Kami sudah mencari tahu melalui internet, kemudian data tersebut akan kami verifikasi dan survei langsung ke lapangan. Nanti dari sana akan terlihat bagaimana kondisi dan masalah riil yang ada,” kata Puan.
Dari penelusuran awal tersebut, kelompok Puan melihat bahwa pelayanan desa berbasis digital menjadi salah satu isu yang menarik untuk dikaji lebih lanjut. Namun demikian, temuan awal tersebut masih akan diverifikasi melalui observasi dan interaksi langsung dengan pemerintah desa serta masyarakat.
“Secara umum, salah satu hal yang terlihat adalah pelayanan berbasis digital. Nanti kami lihat terlebih dahulu kondisi sebenarnya di lapangan. Mudah-mudahan kami bisa memberikan inovasi untuk memperkuat layanan desa berbasis digital,” tandasnya.
Melalui program magang ini, mahasiswa APN Politeknik STIA LAN Bandung diharapkan tidak hanya memperoleh pengalaman kerja nyata, tetapi juga mampu memahami persoalan pembangunan dari dekat dan menghasilkan gagasan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Bagi Politeknik STIA LAN Bandung, pengalaman belajar di desa merupakan bagian dari komitmen untuk menyiapkan lulusan yang memiliki kompetensi akademik sekaligus kemampuan praktis dalam menghadapi kompleksitas persoalan sektor publik. Dengan semangat belajar, berkarya, dan berdampak, mahasiswa diharapkan mampu tumbuh menjadi calon pemimpin yang responsif, solutif, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.




