Politeknik STIA LAN Bandung dan Kecamatan Bandung Wetan Perkuat Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat

Bandung, 14 Agustus 2026 — Pengelolaan sampah tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan pemerintah. Keberhasilannya membutuhkan keterlibatan masyarakat dan penguatan peran para penggerak di tingkat kewilayahan. Semangat inilah yang mendorong Politeknik STIA LAN Bandung berkolaborasi dengan Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, dalam pendampingan lanjutan pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang dilaksanakan di Taman Film, Tamansari, Jumat (14/8/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih tertib, partisipatif, dan berkelanjutan dengan memperkuat kapasitas para aktor yang berada paling dekat dengan masyarakat. Pendampingan diarahkan agar pengelolaan sampah tidak berhenti pada kegiatan teknis, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama yang mampu berjalan secara mandiri di tingkat kelurahan hingga RW.

Kegiatan diikuti berbagai unsur kewilayahan, mulai dari Camat Bandung Wetan, Lurah Tamansari, Lurah Cihapit, dan Lurah Citarum, Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan (Kasi Ekbang) kelurahan se-Kecamatan Bandung Wetan, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), Forum RW, Tim Penggerak PKK, Karang Taruna, Posyandu, pengurus RW dan RT, hingga petugas GASLAH (Gerakan Sadar Lingkungan dan Sampah).

Menggali Persoalan dari Tingkat Wilayah

Pendampingan dikemas melalui Focus Group Discussion (FGD) yang menjadi ruang bersama untuk mengidentifikasi berbagai persoalan pengelolaan sampah yang dihadapi di lapangan. Forum ini tidak hanya membahas persoalan sampah, tetapi juga menggali peran, kebutuhan, serta tantangan masing-masing aktor dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang dapat berjalan secara konsisten.

Melalui pendekatan tersebut, tim Politeknik STIA LAN Bandung mendorong penguatan kelembagaan pengelolaan sampah di tingkat RW sekaligus merumuskan strategi untuk meningkatkan partisipasi masyarakat. Perangkat kelurahan, pengurus RW dan RT, serta kader masyarakat didorong untuk memiliki peran yang saling terhubung, sehingga pengelolaan sampah tidak bergantung pada satu pihak saja.

Pendekatan berbasis masyarakat ini menjadi penting karena persoalan sampah pada akhirnya bersentuhan langsung dengan kehidupan sehari-hari warga. Ketika masyarakat memiliki pemahaman, peran, dan mekanisme pengelolaan yang jelas, upaya menjaga kebersihan lingkungan dapat tumbuh menjadi kebiasaan bersama.

Perguruan Tinggi Hadir Menjawab Persoalan Publik

Dr. Ir. Ely Sufianti, M.A., selaku bagian dari tim EcoMove Politeknik STIA LAN Bandung, menyampaikan bahwa pendampingan tersebut merupakan salah satu bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam membantu menjawab persoalan publik melalui pendekatan kolaboratif.

“Perguruan tinggi tidak hanya memiliki peran dalam pendidikan dan penelitian, tetapi juga perlu hadir memberikan kontribusi terhadap persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Melalui kolaborasi ini, pengetahuan dan pengalaman akademik dapat dipertemukan dengan praktik serta kebutuhan yang ada di lapangan,” ujarnya.

Kolaborasi tersebut sekaligus menjadi ruang bagi Politeknik STIA LAN Bandung untuk menerapkan keilmuan administrasi publik dalam konteks nyata, khususnya dalam penguatan tata kelola, kelembagaan, partisipasi masyarakat, dan kolaborasi antaraktor.

Dengan demikian, kegiatan pendampingan memberikan manfaat dua arah. Bagi masyarakat dan pemerintah wilayah, kegiatan ini menjadi ruang untuk memperkuat kapasitas dan menemukan solusi yang sesuai dengan kondisi lokal. Sementara bagi perguruan tinggi, interaksi langsung dengan masyarakat menjadi sumber pembelajaran sekaligus pengayaan praktik dalam mengembangkan solusi atas persoalan publik.

Dari Kolaborasi Menuju Perubahan di Lingkungan Warga

Camat Bandung Wetan, Rizka Aryani, S.IP., M.AP., menyambut baik kolaborasi dengan Politeknik STIA LAN Bandung. Menurutnya, pendampingan yang dilakukan dapat membantu memperkuat kapasitas pengurus RT, RW, dan kader masyarakat dalam mengelola persoalan sampah di lingkungan masing-masing.

Kolaborasi ini diharapkan tidak berhenti pada forum diskusi, tetapi berlanjut dalam bentuk penguatan peran dan aksi di tingkat kewilayahan. Dengan semakin kuatnya kapasitas pengurus wilayah dan kader, masyarakat diharapkan memiliki ruang yang lebih besar untuk terlibat dalam menjaga kebersihan dan kualitas lingkungan tempat tinggalnya.

Bagi Kecamatan Bandung Wetan, kolaborasi dengan perguruan tinggi juga menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring dalam penyelesaian persoalan lingkungan. Sementara bagi Politeknik STIA LAN Bandung, kegiatan ini memperkuat peran perguruan tinggi sebagai mitra pemerintah dan masyarakat dalam menghadirkan solusi atas persoalan publik.

Pendampingan lanjutan ini menjadi bagian dari rangkaian kolaborasi yang terus dikembangkan antara Politeknik STIA LAN Bandung dan Kecamatan Bandung Wetan. Ke depan, sinergi tersebut diharapkan mampu mendorong terbentuknya pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang semakin mandiri, memperkuat tata kelola di tingkat kewilayahan, sekaligus menghadirkan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan bagi warga Kota Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *