Mahasiswa Politeknik STIA LAN Bandung Hadirkan Inovasi PANDAN di Kayuambon

Bandung Barat – Desa Kayuambon, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, kini menghadirkan inovasi pelayanan publik berbasis digital melalui sistem PANDAN (Pelayanan Administrasi Digital Kayuambon). Inovasi ini digagas oleh mahasiswa Program Studi Administrasi Pembangunan Negara (APN) Politeknik STIA LAN Bandung yang tergabung dalam program Magang di Desa (Magades) 2025, bekerja sama dengan Pemerintah Desa Kayuambon.

PANDAN dirancang untuk membuat layanan administrasi desa lebih praktis, efisien, dan mudah dijangkau masyarakat. Melalui sistem ini, warga dapat mengurus berbagai kebutuhan administrasi hanya dengan mengakses WhatsApp Center, media sosial resmi desa, atau tautan Linktree yang telah disiapkan untuk formulir digital.

Beberapa layanan yang tersedia antara lain: Surat Keterangan Kelahiran, Surat Keterangan Kematian, Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM), Surat Keterangan Usaha (SKU), Surat Keterangan Pindah, Kartu Keluarga Sementara, KTP Sementara, serta layanan administrasi lainnya.

Koordinator Magades Desa Kayuambon, Deaz Zulfykar Adzandra, menjelaskan bahwa inovasi ini hadir sebagai bentuk kontribusi nyata mahasiswa kepada masyarakat. “Dengan PANDAN, warga bisa mengurus surat-surat penting secara lebih sederhana dan cepat. Harapan kami, sistem ini benar-benar memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” ujarnya.

Kepala Desa Kayuambon Hari Irawan menyampaikan apresiasinya terhadap kontribusi mahasiswa. “Kami merasa terbantu dengan adanya PANDAN. Inovasi ini tidak hanya meringankan tugas aparatur desa, tapi juga membuat warga semakin mudah dalam mengakses layanan administrasi,” katanya.

Hal senada juga disampaikan Sekretaris Desa Kayuambon Muhamad Chandra Gunawan, SE. yang turut menjadi pembimbing lapangan. “Mahasiswa Magades cepat beradaptasi dengan lingkungan desa, berinteraksi baik dengan masyarakat, dan mampu memberikan ide-ide segar yang aplikatif,” ungkapnya.

Dari sisi akademik, Dr. Siti Widharetno Mursalim selaku dosen pembimbing menegaskan bahwa Magades menekankan praktik nyata khas pendidikan vokasi. “Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi diuji untuk menciptakan solusi inovatif yang kontekstual dan bermanfaat bagi masyarakat. PANDAN adalah bukti bahwa inovasi dari desa bisa menjadi inspirasi untuk pembangunan publik,” jelasnya.

Sementara itu, Ibu Cintanthya Andhita Dara, M.AP., menambahkan bahwa keberlanjutan sistem menjadi perhatian penting. “Kami sudah menyusun pedoman teknis PANDAN agar perangkat desa dapat menjalankannya secara mandiri. Dengan begitu, inovasi ini tidak berhenti di sini, tapi terus berkembang,” ujarnya.

Selain meluncurkan PANDAN, tim Magades juga memperkuat profil desa melalui pembuatan presentasi (PPT), infografis, serta draft SOP pelayanan yang dapat dijadikan acuan kerja aparatur desa.

Tim Magades Desa Kayuambon beranggotakan 12 mahasiswa, dengan Deaz Zulfykar Adzandra sebagai koordinator, serta Adam Fauzi Ashari, Adhisti Dara Narda, Aditya Pratama Rosadi, Fachri As-Syidiq, I Gusti Ayu Lita Aulia, Mega Zahra Rahman, Najwa Saira Permana, Nestiany Bening Setiadi, Rafa Putri Nafisah, Zahra Nurulya Fitriani, dan Zaki Muhammad Faturrohman.

Dengan adanya PANDAN, Desa Kayuambon berharap pelayanan administrasi dapat berjalan lebih cepat, transparan, dan inklusif, sekaligus menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Kabupaten Bandung Barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *