SAPADELA Mantap: Inovasi Digital Mahasiswa Politeknik STIA LAN Bandung untuk Desa Lembang

Mahasiswa Politeknik STIA LAN Bandung melakukan terobosan baru dalam meningkatkan pelayanan publik desa melalui inovasi SAPADELA Mantap (Satu Pintu Administrasi Desa Lembang). Sistem ini lahir dari kolaborasi antara Pemerintah Desa Lembang dan mahasiswa dalam program Magang di Desa (Magades) yang dikemas dalam bentuk sosialisasi inovasi.

SAPADELA Mantap hadir sebagai solusi pelayanan publik berbasis digital untuk mempercepat, mempermudah, dan mengefektifkan layanan administrasi desa. Sistem ini menyediakan 10 jenis layanan administrasi—mulai dari surat keterangan domisili, kelahiran, kematian, perkawinan, SKU, SKTM, pindahan, hingga pekerjaan—yang dapat diakses melalui WhatsApp, website resmi www.lembang-bandungbarat.id, formulir online, maupun barcode/link khusus.

Acara sosialisasi dihadiri perwakilan Kecamatan Lembang, Siti Mariam; perwakilan Kepala Desa Lembang, Windi Budiarto, S.AP; dosen pembimbing Dr. Achmad Sodik Sudrajat, S.H., M.H.; perangkat desa, karang taruna, ketua RT/RW, serta 12 mahasiswa magang. Dalam sambutannya, Siti Mariam mengapresiasi kontribusi mahasiswa melalui Magades, sementara Windi menegaskan pentingnya inovasi layanan untuk memberikan kemudahan kepada masyarakat.

Dosen pembimbing menjelaskan bahwa mahasiswa menindaklanjuti hasil survei dan wawancara dengan warga, yang mengungkap empat isu utama: pengelolaan sampah, pelayanan administrasi, pengembangan BUMDes, dan infrastruktur. Dari isu tersebut, mahasiswa fokus pada pelayanan administrasi dengan menghasilkan dua produk inovasi: SAPADELA Mantap dan SUKMALA Mantap.

Jika SAPADELA berfungsi sebagai sistem layanan satu pintu, maka SUKMALA Mantap menjadi sarana evaluasi kepuasan masyarakat. Melalui SUKMALA, warga dapat menyampaikan keluhan yang akan ditampung dan ditindaklanjuti oleh pihak desa. Sistem ini akan diperkenalkan melalui flyer dan berbagai media sosialisasi lainnya.

Ketua kelompok mahasiswa, Fauza Maghfira, menegaskan bahwa SAPADELA dirancang untuk membantu desa mewujudkan pelayanan yang cepat, responsif, dan sistematis. Mahasiswa berharap inovasi ini berkelanjutan, bukan hanya selama masa magang, melainkan terus dikembangkan bersama pemerintah desa.

Dr. Achmad Sodik menutup dengan pesan bahwa desa adalah ruang belajar, sementara mahasiswa menjadi mitra pembangunan. Kolaborasi ini diharapkan membawa manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus pengalaman berharga bagi mahasiswa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *