Bandung, 29 Agustus 2026 — Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Politeknik STIA LAN Bandung menyelenggarakan Seminar Legislatif 5.0 (NARATIF 5.0) di Aula Politeknik STIA LAN Bandung. Mengusung tema “Rakyat Bicara, Negara Mendengar: Menakar Pengaruh Aspirasi Publik dalam Proses Perumusan Kebijakan di Indonesia,” kegiatan ini menjadi ruang edukasi dan dialog bagi generasi muda untuk memahami proses legislasi serta melihat secara lebih dekat bagaimana aspirasi masyarakat dapat memengaruhi perumusan kebijakan.
NARATIF 5.0 diikuti oleh Keluarga Mahasiswa (KEMA) Politeknik STIA LAN Bandung, perwakilan mahasiswa se-Jawa Barat, Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) se-Bandung Raya, serta Majelis Perwakilan Kelas (MPK) tingkat SMA/SMK se-Bandung Raya. Keberagaman peserta menjadikan kegiatan ini sebagai ruang kolaborasi yang mempertemukan berbagai perspektif, sekaligus mendorong tumbuhnya kepedulian generasi muda terhadap isu pemerintahan, legislasi, dan kebijakan publik.
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber dengan perspektif yang berbeda, yaitu H. Asep Mulyadi, S.H., Ketua DPRD Kota Bandung, dan Armand Suparman, Menteri Dalam Negeri, Desa, Otonomi Daerah dan Keamanan Negara Kabinet Bayangan sekaligus Direktur Eksekutif Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD). Kehadiran kedua narasumber memberikan kesempatan kepada peserta untuk memperoleh pemahaman yang lebih luas mengenai dinamika pemerintahan, lembaga legislatif, otonomi daerah, serta hubungan antara aspirasi masyarakat dan proses pengambilan kebijakan.
Salah satu pembahasan utama dalam NARATIF 5.0 mengangkat topik “Negara Mendengar: Mengubah Kritik Publik Menjadi Produk Regulasi yang Inklusif.” Pembahasan ini menempatkan kritik dan aspirasi publik sebagai bagian penting dalam demokrasi, bukan sekadar bentuk ketidakpuasan masyarakat. Aspirasi publik dapat menjadi sumber informasi bagi pemerintah dan lembaga legislatif untuk memahami kebutuhan masyarakat serta menjadi bahan pertimbangan dalam menghasilkan kebijakan yang lebih responsif.
Dalam prosesnya, tantangan tidak hanya terletak pada keberanian masyarakat dalam menyampaikan kritik, tetapi juga pada kemampuan pemerintah dan lembaga terkait dalam menyaring, mengelola, serta mengintegrasikan masukan tersebut ke dalam proses kebijakan. Partisipasi masyarakat yang bermakna diharapkan tidak berhenti pada pemenuhan prosedur, tetapi mampu memberikan pengaruh nyata terhadap kebijakan sehingga menghasilkan regulasi yang transparan, akuntabel, adil, dan inklusif.
Selain pembahasan mengenai pengelolaan aspirasi publik, peserta juga mendapatkan perspektif mengenai dinamika birokrasi dan politik dalam agenda setting kebijakan melalui materi “Menyaring Aspirasi Rakyat: Dinamika Birokrasi dan Politik dalam Agenda Setting Kebijakan.” Rangkaian pemaparan materi kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang memberikan ruang bagi peserta untuk menyampaikan pertanyaan, pandangan, serta merespons isu-isu yang dibahas secara langsung.
Melalui NARATIF 5.0, peserta diharapkan tidak hanya memahami proses legislasi dan pembentukan kebijakan dari sisi teoritis, tetapi juga mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis terhadap isu-isu strategis dan aktual. Kegiatan ini sekaligus mendorong generasi muda untuk berpartisipasi secara aktif dalam diskusi publik serta memahami pentingnya transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi masyarakat dalam proses legislasi.
Melalui penyelenggaraan Seminar Legislatif 5.0, DPM Politeknik STIA LAN Bandung berkomitmen untuk terus membuka ruang dialog dan pembelajaran bagi generasi muda. NARATIF 5.0 diharapkan dapat menjadi langkah dalam membangun generasi yang tidak hanya berani menyampaikan kritik dan aspirasi, tetapi juga mampu mengawal prosesnya hingga menjadi bagian dari kebijakan publik yang lebih responsif dan berpihak pada kepentingan masyarakat.




